Bilangan Fu, Sebuah Alternatif Pembacaan Agama

“Saya percaya bahwa agama tidak hanya bisa dibaca secara dogmatis.”

Kalimat tersebut saya dengar beberapa bulan lalu saat mengikuti diskusi bertemakan perempuan dan spiritualisme kritis yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sang pembuat pertanyaan tak lain adalah Ayu Utami, penulis novel Bilangan Fu. Novel yang diterbitkan oleh penerbit KPG ini terbit pertama kali tahun 2008 dengan komposisi sebanyak 531 halaman. Spiritualisme kritis merupakan tema novel Bilangan Fu, sebuah tema yang relatif tidak populer karena mungkin belum pernah didengar oleh para pembaca.

Membaca Bilangan Fu tidaklah seperti membaca novel-novel lain dimana pembaca akan mampu mengidentifikasi siapa tokoh utama dan tokoh pendukung di dalamnya. Sandi Yuda dan Parang Jati adalah dua orang yang menjadi tokoh dengan intensitas kemunculan paling tinggi dalam cerita ini. Namun, kita tidak bisa menyebut bahwa Marja, Suhubudi, Kupukupu, Mbok Manyar, Penghulu Semar, dan Lurah Pontiman sebagai tokoh pendamping. Membaca Spiritualisme Kritis dalam novel ini hanya bisa dilakukan ketika kita tidak mengesampingan peran salah satu tokoh.

Sandi Yuda adalah mahasiswa yang modern, rasional, dan anti televisi. Jika hidup di zaman sekarang, mungkin ia akan disebut anak milenial. Parang Jati, meskipun juga seorang mahasiswa, memiliki pemikiran yang bertolak belakang dengan Yuda.Parang Jati bukannya tidak rasional, melainkan ia melakoni peran kritik terhadap apapun termasuk terhadap rasionalitas itu sendiri. Benturan antara Parang Jati dan Yuda dimulai ketika Yuda dan rekan-rekannya terus melakukan pengeboran pada tebing-tebing watugunung. Parang Jati menyebutnya “pemanjatan kotor”. Sebuah perwujudan kesombongan manusia untuk menguasai alam.

Alam, bagi Parang Jati bukan sekedar objek yang bisa dikuasai manusia. Ia menganggap bahwa ritual-ritual yang bagi banyak orang dinilai sebagai tahayul dan budaya orang-orang kampung yang bodoh adalah sebuah bentuk penjagaan terhadap alam. Berangkat dari pemikiran tersebut, Parang Jati berusaha menyelamtkan kawasan karst di sekitar Watugunung dari penambangan dengan jalan akademis dan  strategi budaya. Ia berkerjasama dengan para geolog untuk mengusulkan agar wilayah tersebut dijadikan kawasan yang dilindungi karena potensial untuk diteliti. Ia juga kemudian mengusulkan agar ritual-ritual pemberian sesajen dijadikan bentuk budaya masyarakat watugunung.

Jalan akademis dan strategi budaya yang ditempuh Parang Jati membuatnya memiliki dua musuh sekaligus. Musuh pertamanya adalah kupukupu atau farisi. Ia seorang pemuda asli watugunung yang mungkin jika hidup di era sekarang akan minta dipanggil dengan sebutan “akhi”. Jelas baginya bahwa ritual tersebut adalah perbuatan syirik dan menyekutukan Allah. Musuh kedua jati adalah militer. Jelas bagi para aparat di kala itu bahwa apa yang dilakukan Parang Jati mengganggu proyek-proyek penambangan yang mereka kawal.

Yuda, yang kemudian menjadi sahabat Parang Jati, menyadari bahwa pertemuannya dengan parang jati bukanlah tanpa makna. Pertemuan itu adalah tanda sekaligus jawaban dari pertanyaannya tentang bilangan fu. 1 : a = 1 x a ; dan a bukan 1. Bilangan Fu adalah a.

Bilangan fu adalah sebuah hal yang baru. Ia misterius dan membuat pembaca akan mengalami ketertarikan untuk mencari tahu tentang apakah novel ini sebenarnya. Di sisi lain novel ini adalah novel yang relevan dibaca saat ini. Sikap intoleransi di Indonesia mulai kembali marak beberapa tahun terakhir. Salah satunya bisa terlihat dari munculnya spanduk “Jangan larung sesaji karena bisa tsunami” yang terjadi Oktober 2018 di Cilacap.

Saya yakin, orang-orang yang beragama akan menganggap ritual larung sesaji adalah hal yang dilarang agama. Namun, saya juga yakin diantara mereka juga ada yang menyadari bahwa larung sesaji merupakan sebuah budaya yang sangat tua dan bentuk penghormatan terhadap alam. Saat inilah, spiritualisme kritis bisa menjadi alternatif pilihan. Spiritualisme kritis, membaca agama tidak secara dogmatis.

Relevansi novel Bilangan Fu dengan fenomena yang terjadi saat ini tidak hanya berkaitan dengan tema besar spiritualisme kritis. Di awal bulan Februari 2019 ini, masyarakat sempat mendengar berita mengenai kondisi militer Indonesia yang mengalami kelebihan personel perwira menengah dan tinggi. Saat membaca Bilangan Fu, saya merasa pertanyaan saya mengenai alasan terjadinya kelebihan personel di tubuh militer terjawab.

Meskipun novel ini menarik, berani, dan beda, para pembaca yang kurang begitu akrab dengan kisah-kisah pewayangan dan sejarah kerajaan di Indonesia akan mengalami kebingungan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa sisipan mengenai sejarah kerajaan dan pewayangan yang cukup banyak jumlahnya. Para penyuka “happy ending” pun mungkin akan merasa kecewa dengan novel ini karena novel ini tidak memiliki akhir yang bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s